6:38 AM
0


Pada umumnya kota-kota di Indonesia selalu saja menyebut nama etnis mayoritas untuk sebutan suatu kampung, cara ini dianggap yang paling mudah mengetahui etnis mayoritas di kawasan itu. Kita ambil contoh  ada Kampung Madras, berarti di kampung itu banyak bermukim orang yang berasal dari Madras. Demikian juga daerah lain punya Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Bantan, Kampung Madura  dan kampung-kampung etnis lainnya. Maka di Serdang Bedagai tidak kalah penting, di sini ada kampung Bali. Ini yang terasa unik di Kabupaten Serdang Bedagai. Walaupun suku Bali tidak mayoritas di tempat itu tetapi keberadaan mereka cukup eksis sehingga membuat suasana kampung  bernuansa beda dari kampung-kampung sekitarnya, seperti cara mereka beribadat dengan memakai atribut khas Bali yang dirasa penduduk sekitar agak berbeda. Tetapi dalam segi pergaulan mereka tidak pernah merasa berbeda bahkan sangat akrab dengan penduduk etnis lain. Seperti diketahui Etnis Bali jarang atau tidaklah telalu banyak yang merantau ke pulau lain kalau dibandingkan denganorang Tapanuli atau Minangkabau. Kedatangan mereka ke Pegajahan ini sepertinya
perlu di ketahui dan menjadi catatan sejarah.
 
                                                                       
Letak Kampung Bali
.Kampung Bali  terletak di Kecamatan Pegajahan Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara dan berjarak kira-kira 13 km dari kota Perbaungan tepatnya di Dusun Harapan II B, Desa Pegajahan, yang letaknya berbatasan dengan Kecamatan Perbaungan dikelilingi oleh Perkebunan PTPN IV Adolina.  Di tempat ini sebagaimana tempat-tempat lain di Serdang Bedagai dihuni oleh bermacam-macam suku bangsa seperti, Minangkabau, Banjar, Batak, Melayu, Bali dan lainnya.  Untuk menuju ke kampung Bali tidaklah sukar karena jalanan sudah terbilang lumayan bagus dab beraspal. Dari Perbaungan ada pertigaan untuk menuju Kecamatan Pegajahan dan di Pinggir jalan sudah ada penunjuk arah untuk menuju Pura Bali.
Asal Muasal
Meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963 mengakibatkan penduduk sekitar harus di transmigrasikan atau dikirim ke pulau lain sebagai tenaga kontrak  karena 70 km2 kawasan sekitar Gunung Agung terkena dampak letusan.  Penduduk sekitar Gunung Agung yang akan diberangkatkan ke Luar Pulau Bali mendapat pilihan yaitu sebagai tenaga kontrak atau sebagai transmigran. Untuk transmigran akan di kirim ke Pulau Kalimantan dan Selawesi dan untuk tenaga kontrak akan di kirim ke Sumatera Utara. Maka sebagian etnis Bali yang sekarang di Pegajahan ini adalah tenaga kontrak selama 6 tahun bekerja di perkebunan rambung/ karet. Demikian waktu pun bergulir
mereka telah merasa sesuai dengan tempat ini maka mereka memperpanjang masa kontrak 6 tahun kedepan dan seterusnya.  Menurut dua orang narasumber yang penulis jumpai yaitu Bapak Nengah Sumadi Yasa berusia 67 tahun  dan Bapak Made Widya seorang kakek yang telah berumur 83 tahun dan pernah menjadi sopir pribadi Menteri Luar Negeri Repulik Indonesia era Bung Karno “Anak Agung Gde Agung”  yang menjabat dari tahun 1955-                                    
1956, Made Widya adalah sopir pribadi sang Menteri.  Kakek ini pun mengaku sangat dengat dekat dengan Bung Hatta.  Dan beliau adalah salah seorang diantara warga Bali yang di berangkatkan ke Sumatera Utara pada tahun 1963. Keberangkatannya ke Sumatera Utara tidak diketahui oleh mantan majikan dan kenalan lain di Jakarta. Saat itu ada 63 Kepala Keluarga Etnis Bali atau sekitar 200 an orang yang di berangkatkan langsung dari Bali ke Sumatera Utara tepatnya di Desa Pegajahan ini untuk dijadikan buruh pada perkebunan Karet.  Seandainya pada tahun-tahun itu telah ada telepon cellular mungkin sang Kakek tidak akan di jadikan kuli kontrak sampai ke Sumatera ini. Bisa saja beliau menelepon mantan majikannya untuk meminta kerja atau bantuan sekedarnya karena daerah beliau di Pulau Bali ludes terkena letusan gunung Agung. Pada saat peristiwa seperti inilah sistem komunikasi  seperti sekarang ini sangat berguna. 


 Etnis Bali yang berada di Pegajahan ini hidup berdampingan secara damai dengan etnis lainnya.  Seperti diketahui setiap kepercayaan memiliki rumah ibadah maka Etnis Bali perantauan ini sangat membutuhkan suatu tempat Ibadah. Maka pada tahun 1989, Ida Bagus Puja  menghibahkan
      
                                                     


tanah miliknya seluas 2 rantai ( 800 m2) untuk  didirikan sebuah Pura di dusun II B Pegajahan. Pembangunan pura ini dibantu oleh sejumlah warga Bali yang tersebar di beberapa wilayah di Sumatera Utara. Maka pada tahun 1989 berdirilah Pura ini. Pura yang diberi nama Pura Penataran Dharmaraksaka kemudian menjadi kebanggaan masyarakat mereka karena mereka sudah mempunyai tempat beribadah seperti Agama lain. Pura ini yang membuat mereka merasa Home berada di perantauan dan menjadikan mereka bisa berinteraksi satu sama lainnya.  Juga tidak jarang etnis Bali yang berada di daerah lain datang berkunjung ke Pegajahan ini untuk bersilaturahmi dengan saudara-saudara sepulau.  


Pura ini ramai dikunjungi setidaknya dua kali sebulan oleh umat Hindu Bali untuk beribadah pada waktu purnama dan Tilem (bulan gelap). Upacara ini dipimpin oleh Pemangku I Wayan Gio. Karena komunitasnya yang kecil membuat warga Bali ini memiliki rasa kekeluargaan yang kental dengan saling mengunjungi warga Bali lainnya di luar Sergai. Diantara 63 KK yang datang ke Pegajahan ini ada beberapa orang penari Bali  sehingga pada saat itu sampai tahun 1980an mereka sering di undang untuk pertunjukan tari Bali di Medan. Beberapa tahun terakhir ini tarian Bali sudah boleh dikatakan punah di Pegajahan ini karena sang penari sudah menjadi nenek-nenek dan sangat disayangkan tidak ada penerus yang berminat untuk melanjutkan tarian tradisional ini. Tetapi kegiatan keagamaan tetap dilakukan sebagaimana aslinya di Bali.
Pura ini terbagi pada tiga bagian bangunan yaitu Utama (Kepala) ), Madya (Pinggang)  dan Nista (Kaki). Patung Saraswati yang terdapat di area utama pura ini dipercaya penerima ilmu pengetahuan sehingga umat hindu memohon melaluinya untuk mendapatkan pengetahuan. 


Mengenang keindahan pulau Bali dan keakraban sesama penduduk nya maka rindu kampung tak dapat terelakkan, karena itu sehabis kontrak dengan Perkebunan sebagian mereka ada yang pulang kampung. Saat ini Etnis Bali yang berada di Pegajahan hanya sekitar 8 Kepala Keluarga. Karena sebagian ada yang kembali ke daerah asal dan sebagian sudah kawin dengan penduduk setempat dan beralih agama.
Objek Wisata.
Menelusuri keadaan Kampung Bali ini penulis  merasa ada sesuatu keunikan yang tersimpan di dalamnya atau boleh di kiaskan ada harta karun di desa Pegajahan ini. Harta itu adalah budaya Bali yang masih kental yang bisa di poles untuk di jual menjadi suatu objek wisata budaya andalan Kabupaten Serdang Bedagai. Daerah ini bisa dijadikan Desa Wisata yang nantinya menuju Ecotourism Object (Objek Ekowisata). Di yakini dengan adanya program ekowisata maka pendapatan masyarakat akan meningkat karena ekowisata adalah wisata yang berbasis masyarakat (Community based Tourism).  Selain wisata budaya Daerah pegajahan juga sentra home industry seperti kerupuk Opak, Kerupuk Yeye dan bermacam-macam panganan dari ubi. Mari menikmati keindahan Serdang Bedagai dan merasakan berbagai kuliner mulai masakan Melayu, Minangkabau, Madura , Cina, India dan lainnya.
Taman Sari ( Tempat Pengambilan Air Secara Sakral)
Trima kasih smoga bermanfaat.........

0 comments:

Post a Comment